I l u s i k o m u n i k a s i

Clarke & Crossland dalam bukunya yang berjudul “Voice of Leader” mengungkapkan sejumlah kenyataan yang sering terjadi dalam sebuah komunikasi, mereka mengistilahkannya sebagai I l u s i K o m u n i k a s i , kondisi demikian terjadi apabila seorang menganggap :

a. Pendengarnya memahami apa yang dikomunikasikan

b. Pendengarnya menyetujui apa yang dikomunikasikan

c. Pendengarnya peduli dengan apa yang dikomunikasikan

d. Pendengarnya akan mengambil tindakan yang tepat sesuai dengan apa yang dikomunikasikan

Untuk mengatasi kesenjangan komunikasi diatas, berdasarkan hasil penelitian mereka yang panjang, keduanya mengajukan sebuah konsep komunikasi yang mereka namakan sebagai “Voice of Leader” (VL). VL adalah konsep berkomunikasi dengan menggunakan bahasa pendengar, bahasa kita sendiri, dengan cara berbicara dari dasar hati dan jiwa, serta dengan menjadi seorang yang autentik (menjadi diri sendiri) serta berjiwa dewasa. Aktor ternama James earl Jones dalam buku autobiografinya James earl Jones : Voices and Silences, mengatakan :

“Pastikan kata-katanya benar-benar milikmu Doronglah dari dasar jiwamu Dan, otomatis kau akan membawakannya dengan baik”.

Dicontohkan bagaimana seorang ahli pembisik kuda dari Spanyol menjinakkan seekor kuda tanpa melalui kekerasan melainkan hanya dengan memakai bahasa kuda “el lenguaje del caballo”. Para pembisik kuda telah paham dengan tepat arti dari setiap gerakan, tatapan dan ringkikan kuda-kuda liar tersebut, dan mereka memakai bahasa tersebut untuk berbicara. Hasil yang dicapai ternyata luar biasa kuda liar tersebut tunduk dengan masih membawa tenaga penuh, sangat berbeda dengan kuda liar yang tunduk secara paksa, kuda tersebut pada akhirnya juga patuh namun kekuatan yang dimilikinya sudah tidak sempurna lagi. Bahasa para pembisik kuda adalah bahasa kuda, bukan bahasa pelatihnya, tujuannya meminta kuda untuk bergabung secara sukarela.

VL memakai tiga saluran komunikasi fakta, emosi dan simbol. Secara anatomis ternyata otak kita dirancang untuk berfikir dan bertindak memakai tiga saluran komunikasi fakta, emosi dan simbol secara bersamaan. Apabila salah satu saluran dihilangkan, manusia tidak bisa lagi bertindak logis dan tidak bisa mempunyai penalaran yang tepat, phenomena ini sering digambarkan sebagai efek Phineas.

Phineas P. Gage adalah seorang mandor bangunan yang mengalami kecelakaan tragis yang mengakibatkan sebagian otak yang bertugas untuk berkomunikasi dengan bagian emosi mengalami kerusakan permanen, dia tetap hidup namun mengalami kemunduran dan ketidakseimbangan dalam emosi. Pemikirannya perlahan-lahan berubah, berbalik 180 derajat, dari pribadi yang sangat dihormati menjadi pribadi yang mudah resah, kasar, tidak sopan, tidak sabar dan keras kepala. Nalar tanpa emosi adalah tidak mungkin secara neurologi.

Tinggalkan komentar

Filed under SDM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s