Blokir dan Penyitaan Harta Penanggung Pajak

Adanya ketentuan tanggung renteng untuk melunasi hutang pajak menjadikan harta pribadi dari penangung pajak/pengurus perusahaan bagian dari objek sita, sehingga apabila Wajib Pajak nyata-nyata tidak dapat melunasi hutang pajaknya, harta pribadi dari penanggung pajak/pengurus dapat disita untuk melunasi utang pajak dari Wajib Pajak.

Jenis harta yang menjadi objek sita adalah harta bergerak dan harta tidak bergerak. Prioritas penyitaan adalah harta bergerak, bila nilai harta bergerak tidak mencukupi hutang pajak, penyitaan beralih ke harta tidak bergerak. Harta bergerak dapat meliputi kendaraaan bermotor, uang tunai, rekening koran, giro, tabungan, deposito, komputer, piutang, penyertaan saham, surat berharga, dll. Harta tidak bergerak yaitu tanah dan bangunan.

Apabila harta bergerak dalam bentuk rekening koran, tabungan, deposito, giro dan simpanan yang lazim dalam praktek perbankan, proses penyitaan harus didahului: i) pemblokiran rekening dan ii) mengetahui jumlah/nilai dari rekening dan simpanan di bank. Berdasarkan bunyi lampiran I Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-109/PJ./2007 juru sita dalam melaksanakan pemblokiran rekening tidak lagi perlu mengetahui nomor rekening giro atau tabungan dari penanggung pajak karena permintaan pemblokiran dibuat secara umum meliputi seluruh bentuk simpanan dari penanggung pajak yang ada di bank. Selanjutnya pimpinan dari bank yang akan menentukan asset dari penanggung pajak yang akan diblokir.

Istilah pemblokiran berdasarkan pasal 1 angka 8 Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 563/KMK.04/2000 yaitu: “Pemblokiran adalah tindakan pengamanan harta kekayaan milik Penanggung Pajak yang tersimpan pada bank dengan tujuan agar terhadap harta kekayaan dimaksud tidak terdapat perubahan apapun, selain penambahan jumlah atau nilai”. Bentuk surat permintaan pemblokiran rekening sbb.:

Nomor :
Sifat : Segera
Lampiran : Satu set
Hal : Permintaan Pemblokiran Harta Kekayaan Penanggung Pajak yang Tersimpan pada Bank

Yth. Pimpinan Bank …………………………………..
………………………………………………………………

Sesuai dengan ketentuan Pasal 5 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 135 Tahun 2000 tentang Tata Cara Penyitaan Dalam Rangka Penagihan Pajak dengan Surat Paksa jo Pasal 2 dan Pasal 3 Keputusan Menteri Keuangan nomor 563/KMK.04/2000 tentang Pemblokiran dan Penyitaan Harta Kekayaan Penanggung Pajak yang Tersimpan pada Bank Dalam Rangka Penagihan Pajak dengan Surat Paksa, dengan ini diminta bantuan Saudara untuk melakukan pemblokiran secara seketika atas harta kekayaan Penanggung Pajak berupa giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu, atas nama :

Nama : ……………………………………………………………………..
NPWP : ……………………………………………………………………..
Alamat : ……………………………………………………………………..

Untuk dijadikan jaminan pelunasan tunggakan pajak sejumlah Rp/$ ………………………….. (……………………………………………………….) sebagaimana dimaksud dalam Daftar Surat Paksa terlampir.

Atas bantuan dan kerjasama Saudara, diucapkan terima kasih.
KepalaKantor
ttd.

………………….
NIP
Tembusan :

Permintaan pemblokiran harus disampaikan langsung oleh juru sita, dan pimpinan bank berdasarkan Pasal 3 Ayat (2) Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 563/KMK.04/2000 wajib melaksanakan blokir. “Pimpinan bank atau pejabat bank yang ditunjuk wajib melaksanakan pemblokiran terhadap harta kekayaan Penanggung Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) seketika setelah menerima permintaan pemblokiran dari Pejabat”. Pelaksanaan blokir dinyatakan dalam Berita Acara Pelaksanaan Pemblokiran.

Setelah proses blokir selesai, juru sita akan minta penanggung pajak untuk memberi kuasa kepada pempinan bank untuk memberitahukan saldo kekayaan dari Wajib Pajak yang tersimpan di bank. Apabila Wajib Pajak menolak memberikan kuasa, permintaan pemberitahuan saldo kekayaan Wajib Pajak di peroleh dari Bank Indonesia berdasarkan permintaan Meteri Keuangan. Apabila saldo sudah didapat selanjutnya dilaksanakan proses penyitaan kekayaan Wajib Pajak dengan membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita.

Dalam jangka 14 hari setelah sita, apabila hutang pajak belum dilunasi, saldo kekayaan Wajib Pajak akan dipindahbukukan ke rekening Kas Negara dengan menggunakan Surat Setoran Pajak dengan penyetor adalah Juru Sita. Setelah utang pajak lunas, rekening Wajib Pajak akan diusulkan dibuka kembali.

Sebagai catatan bahwa atas kekayaan dari pengurus perusahaan yang tersimpan di bank namun tidak tercantum dalam Surat Paksa tetap dapat diblokir berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-108/PJ./2009 tentang Pelaksanaan Pemblokiran Harta Kekayaan Penanggung Pajak Yang Tersimpan Pada Bank Milik Penanggung Pajak Yang Namanya Tidak Tercantum Dalam Surat Paksa, dengan melampir i) Surat Paksa, ii) Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan dengan mencantumkan nama Wajib Pajak dan nama penanggung pajak dan iii) Surat keterangan penjelasan mengenai kedudukan Wajib Pajak dan penggung pajak dilengkapi dengan dokumen pendukung. (bersambung)

Sumber:

  • Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 563/KMK.04/2000 Tentang Pemblokiran Dan Penyitaan Harta Kekayaan Penanggung Pajak Yang Tersimpan Pada Bank Dalam Rangka Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa
  • Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-627/PJ/2001 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemblokiran Dan Penyitaan Harta Kekayaan Penanggung Pajak Yang Tersimpan Pada Bank Dalam Rangka Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa
  • Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-109/PJ./2007 Tentang Perubahan Atas Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-627/PJ/2001
  • Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-108/PJ./2009 tentang Pelaksanaan Pemblokiran Harta Kekayaan Penanggung Pajak Yang Tersimpan Pada Bank Milik Penanggung Pajak Yang Namanya Tidak Tercantum Dalam Surat Paksa
About these ads

Tinggalkan komentar

Filed under Tax Looks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s